Rasa rindu ini semakin mendalam. Semakin tak terkendali. Selalu tersesaki air mata dalam setiap
doa. Ternyata aku benar-benar haus akan
sentuhannya yang selalu sanggup mengalirkan kehangatan ke seluruh titik hati
ini. Tapi manisnya kebersamaan kami terhalang oleh
jarak dan waktu. Aku merindukannya.
Dua tahun lalu ketika aku di awal usia dua puluh dua, aku baru saja kuliah
lagi. Aku mengenalnya dalam sebuah perbincangan kecil di kampus. Jujur, aku suka memanjakan kedua mataku
dengan berlama-lama memandangnya. Senyumannya, tatapan matanya selalu sanggup membuatku
terpaku. Bagiku, dia memiliki segalanya yang aku
cari selama ini. Aku jatuh cinta padanya, Davian Natha Putra.
Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Tuhan mengabulkan keinginanku. Sekarang
tidak ada lagi aku dan dia. Yang ada
hanya kami dan masa depan kami.
***
Sudah dua tahun ini kami menjalin cinta. Dan kami punya janji menikah di akhir tahun depan. Aku semakin bahagia dan bersemangat menjalani
hari-hariku. Begitu banyak rencana untuk
persiapan pernikahan kami. Kami bahkan sudah membeli rumah
mungil. Aku yakin dia serius tentang kami dan aku benar-benar ingin bisa jadi istri terbaik untuknya. Juga ibu teristimewa untuk anak-anak kami.
Dia sering
berkata padaku, “You
are my soul, you are my heart, you are my pride. Do you know why? Because you are my everything”
Aku pun selalu
punya jawaban, “And you are my everything too.
You are my world. You are my
future”
***
Hari ini Minggu yang cerah. Tapi
pekerjaannya yang sering membuatku cemburu
itu lagi-lagi membuatnya harus tetap bekerja. Padahal semalam pun kau sudah pulang sangat
larut. Dan dalam dua minggu terakhir ini aku tahu dia
sangat lelah. Tapi dia masih selalu
punya waktu untukku.
Tiba-tiba terbesit di fikiranku untuk sebuah kejutan kecil di pagi hari. Kau kan
baru berangkat kerja jam 10 pagi. Pagi
ini aku ingin jadi orang pertama yang kau lihat saat kau membuka mata dari
tidur lelapmu. Membuatkanmu
sarapan. Atau kalau perlu aku akan
menyuapimu. Menyiapkan pakaian
kerjamu. Everything for this
morning. I want to do it just for you,
honey.
Aku segera
mandi. Setelah berpamitan dengan ayah
bundaku, dengan
penuh senyum aku pergi ke rumahnya dengan taksi yang sudah kupesan dari tadi. Tidak sabar
rasanya ingin membangunkannya pagi-pagi seperti ini. Dia pasti senang.
***
“Assalamu’alaikum, dek...”, sapaku saat Kinanti, adik perempuannya yang sebenarnya beberapa bulan
lebih tua dariku, membukakan pintu untukku, “Assalamu’alaikum, ma...”, ucapku ketika melihat mama duduk di kursi
tamu. Tapi kenapa aku melihat kecemasan
di wajah lelahnya.
“Walaikumsalam, kak. Kak Ayu koq
kesini pagi-pagi?, jawabnya lirih. Entah
kenapa aku melihat kegelisahan di wajahnya.
“Pengin aja. Pengin bangunin kakakmu
itu. Sekalian sekali-sekali aku mau
buatin sarapan untuk dia.”,
jawabku dengan
senyum meskipun sebenarnya aku
merasa aneh dengan pertanyaan Kinanti, “Hlo…
Kak Natha nggak
pulang, dek? Kemana? Kak Natha kenapa, dek?”, cemas
langsung memenuhi hatiku saat tersadar bahwa motor yang biasa dia pakai tidak ada di rumah pagi ini.
***
Perjalanan yang terasa sangat lama membuat hatiku berdenyut memikirkannya. Tapi aku bisa
melihat dengan jelas kegelisahan dan rasa takut yang sama dengan yang kurasakan
di wajah mama dan Kinanti. Bahkan mama terus menggenggam erat tanganku. Tuhan...
semoga semua baik-baik saja.
***
Langkahku terasa sangat berat saat turun dari taksi dan menatap sebuah
bangunan di hadapanku. Berjalan perlahan
memasuki bangunan itu dengan terus menopang tubuh lemas mama dan merangkul Kinanti yang melangkah kaku, “Selamat pagi, pak”, aku bicara
pada seorang pria yang sedang duduk dengan angkuh di balik sebuah meja panjang.
“Pagi. Ada yang bisa dibantu?”,
jawabnya formal.
“Saya tadi dapat telepon dari sini dan diminta kesini. Hmm... tentang Pak Natha.”
“Anda siapanya?”, tanyanya dengan pandangan menilai.
“Saya calon istrinya.”
Aku mengikuti
pria itu ketika dia beranjak dari kursinya.
Aku berusaha menguatkan mama. Dalam
genggamanku, aku merasakan mama semakin larut dalam situasi ini, mama semakin
lemas dalam setiap langkahnya. Kinanti
berjalan perlahan di belakangku sampai akhirnya pria itu berhenti di depan
sebuah ruangan kecil dan menyuruh kami masuk.
Pria tadi
meninggalkan kami begitu saja. Sampai
akhirnya ada seseorang yang memberikan penjelasan kepada kami. Tapi aku punya keyakinan bahwa apa yang aku
dengar adalah jauh dari kenyataan yang sebenar-benarnya. Mama pun sampai tak sadarkan diri setelah
mendengar semua penjelasan itu.
***
Ketika Kinanti
menemani mama yang belum juga tersadar, aku memilih untuk menguatkan hati untuk
melihat kekasihku, kanda tercinta, calon suamiku, Natha. Dan... aku terhenyak melihat dia duduk di sudut sebuah
ruangan dengan kaos dan celana pendek putih tipis yang membuat hatiku makin
teriris. Seperti seluruh udara di
sekitarku hilang begitu saja. Aku hanya
mampu menatapnya dengan sakit, tapi air mataku tak sedikitpun menetes. Hati ini terlalu berkeping-keping
hancurnya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin membuatnya nyaman.
Dia melangkah
gontai ke arahku, berlutut di hadapanku yang seketika itu juga membuat lututku
jadi tumpuan tubuhku. Dia menggenggam
tanganku, mencium tanganku berkali-kali dengan linangan air mata yang baru kali
ini aku lihat di wajahnya, wajah yang selama ini selalu membuatku tersenyum,
wajah yang selama ini memberi kekuatan di setiap detik yang aku lalui. Tapi kali ini wajah itu basah oleh air mata yang terus mengalir. Kerapuhan terlihat jelas di matanya.
“Kanda, kenapa?
Kenapa?”, hanya itu yang keluar dari bibirku ketika jutaan kata maaf terus
meluncur dari bibirnya.
“Dinda… tolong jangan
tinggalin kanda.”, pintanya dengan suara bergetar dan nyaris tak terdengar
karena ada ketakutan di dalamnya.
Aku tak akan pergi, sayang. Aku ingin memelukmu. Aku ingin… Batinku
merintih, memohon. Tapi penghalang ini membuatku
tak sanggup mendekap erat dirinya. Ingin
menghancurkan penghalang ini tapi aku tak mampu. Hanya dapat menyentuh dengan segala keterbatasan. Jari-jariku menelusuri wajahnya. Saat menatap kedua matanya, aku merasakan
cinta itu masih ada, masih sama, tapi ada luka di hati kami. Luka yang terlalu seketika tapi sangat
dalam. Aku tahu itu.
Aku menyentuh
kedua bahunya untuk memintanya berdiri, “Kanda, berdiri ya… Please… Kanda nggak
perlu berlutut di depan dinda. Jangan
lakukan itu. Itu sangat menyakitkan hati
dinda, melukai dinda.”
Kedua tanganku menangkup
wajahnya, mengusap lembut air matanya. Meskipun
ada jeruji besi yang menghalangiku untuk merengkuhnya, tapi aku yakin hati kami
bicara lebih banyak dan lebih mendalam melalui tatapan mata kami. Lebih berarti dari pada segalanya. Ahh…
iya. Jeruji besi. Ya Allah… apa ini benar jajaran jeruji besi
yang menghalangiku untuk memeluknya? Dan
di dalam sana hanya ada lantai dingin yang akan jadi alas tidurnya? Benarkah ini tahanan?
Tiba-tiba sebuah
suara kasar memecahkan keheningan yang ada.
Seorang polisi muda yang begitu angkuh menyuruhku untuk segera
pergi. Karena tak mau terjadi hal-hal
buruk pada kekasihku, aku bergegas meninggalkan tempat itu. Aku hanya sempat mencium tangannya ketika dia
mencium keningku.
Kulihat mama
sudah sadar dan masih terbaring di salah satu sofa di ruang penyidik. Aku
harus sanggup menguatkan mama.
***
Ketika sudah di
rumah, aku terus
peluk mama yang tak
henti-hentinya menangis dari tadi. Kinanti
hanya termenung dalam sebuah kesedihan.
Aku pun sebenarnya ingin menelungkupkan wajahku dalam tangisan dari hati
terdalam.
Senja yang semakin hilang berganti malam membuatku harus pulang, “Ma.., Ayu
pulang ya. Mama tenangkan diri mama
ya. Mama harus kuat untuk putra mama.”
“Ya, sayang. Mas Natha pasti nggak bersalah
khan? Semua ini pasti jebakan. Mama yakin.
Bantu Mas Natha lewati ini semua ya,” ucap mama lemah.
“Ayu nggak akan tinggalin putra mama.
Ayu janji, ma.”
***
Sepuluh hari telah berlalu. Segala
cara ku tempuh untuk bisa sekedar berkirim surat dengannya meskipun juga tidak
bisa terlalu sering. Jika mama besuk,
aku bersyukur masih dapat mendengar suaranya lewat telepon. Seperti kali ini, “Kanda… sehat khan?”, hanya itu yang sanggup keluar
dari mulutku.
“Kanda sehat…
Dinda gimana?”, suaranya membuat hatiku teriris.
“Dinda kangen
banget sama kanda.“, tangisku tak dapat ku tahan lagi.
“Maafin kanda... maaf.. Tolong tunggu kanda ya, dinda. Kanda mohon.. Kanda nggak akan sanggup jalani
ini semua tanpa dinda.”
“Kanda... Kita punya begitu banyak janji untuk masa depan kita. Dan janji harus ditepati khan? Dinda nggak akan tinggalin kanda. Dinda akan tunggu kanda bukan hanya karena
janji tapi karena dinda sangat amat mencintai kanda. Kita akan lewati ujian ini bersama. Dan kita juga akan buktikan bahwa kanda nggak
bersalah. Kanda harus kuat ya. Demi dinda.
Demi cinta kita.”
“Makasih ya, dinda. Kanda janji akan
bangkit dan jaga dinda selamanya setelah semua rintangan ini berhasil kita
lewati. Kanda percaya cinta dinda sangat
luar biasa untuk kanda. I love you...”
“I love you too...”
***
Kini semua telah berlalu hingga empat puluh lima hari. Setiap hela nafasku kulalui dengan doa dan
air mata. Aku tak pernah putus merintih
dan memohon pada Tuhan untuk cinta kita.
Ujian ini memang sangat berat.
Tapi aku yakin mampu melewati semua dan kembali melangkah bersamanya.
Rasa rindu ini semakin mendalam. Semakin tak terkendali. Selalu tersesaki air mata dalam setiap
doa. Ternyata aku benar-benar haus akan
sentuhannya yang selalu sanggup mengalirkan kehangatan ke seluruh titik hati
ini. Tapi manisnya kebersamaan kami terhalang oleh
jarak dan waktu. Aku merindukannya.
I Love You, Davian Natha Putra.
Dariku, yang selalu
mencintaimu.
Kheisa Ayu Putri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar